Kota
Solo, kota kelahiran saya dan tempat saya tinggal selama 16 tahun terhitung
semenjak saya lahir. Di kota ini saya mendapatkan banyak pelajaran tentang arti
hidup, arti bagaimana melestarikan budaya, dan arti keharusan seorang manusia
untuk peduli lingkungan. Saya yakin, setiap orang yang pernah berkunjung ke
kota ini pasti setuju dengan slogan Kota Solo itu sendiri, “Solo Kota Budaya”.
Ya, siapapun dapat merasakan bagaimana
hawa kekentalan budaya dalam keseharian di Kota Solo.
Kota Solo dikenal sebagai kota budaya oleh dunia
Batik,
kuliner serabi, atau bangunan keraton adalah kesan pertama kebanyakan orang
ketika menggambarkan Solo. Namun sesungguhnya, Kota Solo masih mempunyai banyak
budaya yang tak akan ditemukan di lain daerah. Dan bagi saya sendiri, Kota Solo
mempunyai kesan khusus yang berbeda dari kota lain.
“Solo,
kota peduli lingkungan” itu adalah kesan paling mendalam yang saya rasakan
semenjak saya kecil. Kota ini memang memberikan perhatian yang lebih kepada
lingkungan. Di saat kota-kota lain kebingungan dan mengajak setiap masyarakatnya
untuk menghijaukan kota karena adanya pemanasan global, Kota Solo sudah
“hijau”. Kota yang terus mengalami perkembangan dari segi pembangunan dan
penataan kota ini, tidak pernah melakukan pengalihan fungsi lahan taman kota.
Bahkan pemerintah kota berusaha untuk semakin memaksimalkan fasilitas taman
kota. Pemerintah juga terus berusaha dalam menambah lahan terbuka bagi
masyarakat Solo.
Tak
hanya itu, pemerintah Kota Solo akhir-akhir ini semakin menunjukkan
eksistensinya sebagai kota yang sangat peduli terhadap lingkungan di Kota Solo.
Sebut saja kawasan di sekitar tempat cagar budaya Benteng Vestenburg yang saat
ini semakin terawat dengan pembersihan benteng serta penanaman pohon dan
rerumputan yang membuat suasana sekitar benteng semakin teduh.
Suasana teduh Benteng Vestenburg setelah hujan
Selain
menghijaukan dan merawat Benteng Vestenburg, pemerintah kota solo juga
memperbaiki trotoar di kawasan tersebut. Sehingga saat ini masyarakat Kota Solo
dapat menikmati suasana klasik Benteng Vestenburg dengan berjalan kaki di
sekitar wilayah tersebut.
Trotoar di depan Benteng Vestenburg
Tak
jarang fasilitas yang disediakan oleh pemerintah kota ini juga dimanfaatkan
oleh para pemuda untuk berlatih bermain skateboard. Selain itu, banyak
wisatawan yang memanfaatkan suasana di sekitar Benteng Vestenburg untuk
berfoto, mengabadikan saat-saat singgah di bangunan klasik yang termasuk cagar budaya tersebut. Bahkan ada beberapa
orang yang berkunjung ke Benteng Vestenburg memang sengaja untuk membidik
setiap detail arsitektur Vestenburg.
Lantas
selain kepedulian pada Benteng Vestenburg apalagi langkah Kota Solo dalam
merealisasikan bentuk pedulinya terhadap lingkungan? Tersedianya pohon di
pinggir-pinggir jalan, salah satu jawabannya. Polusi yang semakin menjadi
karena banyaknya kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang di jalan merupakan salah
satu alasan yang membuat masyarakat malas berjalan kaki dan menggunakan
angkutan umum. Namun, di Solo sangat berbeda. Tidak ada masalah apabila kita
memilih berjalan kaki saat berpergian berkeliling Kota Solo. Pemerintah kota
telah menyediakan City Walk yang
nyaman untuk berjalan kaki serta teduh karena banyak pepohonan di sekitarnya.
Suasana teduh Kota Solo
Selain itu pengadaan City Walk telah membantu ekonomi masyarakat solo itu sendiri. Peluang
tersebut ada karena di sepanjang City Walk
berjejer rapi para pedagang kaki lima yang menjajakan setiap dagangannya kepada
para pejalan yang lewat. Tidak seperti umumnya dimana pedagang kaki lima selalu
dianggap tidak teratur dan seenaknya, di kota solo sangatlah lain. Bagaimana
pemerintah berhasil mengatur dan menyediakan tempat yang layak bagi para
pedagang kaki lima patut dicontoh daerah lainnya.
Fasilitas lain yang diberikan oleh pemerintah bagi
para pejalan adalah pengadaan Batik Solo
Trans atau yang lebih sering disebut BST. Mengapa fasilitas ini termasuk
fasilitas yang mendukung pejalan kaki? Karena dengan adanya BST para pejalan
kaki dapat mencapai tujuan jauh yang mungkin tidak dapat dicapai dengan
berjalan kaki. Selain itu, halte-halte BST yang terletak di City Walk semakin memudahkan pejalan
kaki.
Pengadaan Batik
Solo Trans ini adalah salah satu bukti bagaimana pemerintah Kota Solo
merealisasikan kepeduliannya terhadap lingkungan, karena dengan pengadaan BST
tentu penggunaan kendaraan pribadi yang menambah polusi udara dapat
diminimalisir. Ya, tidak dapat disangkal bahwa kendaraan pribadi yang
menyebabkan kemacetan adalah masalah klasik yang terjadi hampir di setiap kota
di Indonesia. Oleh karena itu, kesadaran masyarakat sendirilah yang diperlukan
untuk menguraikan masalah tersebut. Kesadaran masyarakat untuk tidak
menggunakan kendaraan pribadi dan turut serta menggunakan kendaraan umum yang
telah disediakan oleh pemerintah.
Tentu suatu masalah tidak akan selesai apabila yang
menyelesaikan masalah tersebut hanya satu pihak saja, perlu adanya dukungan
dari pihak-pihak lain guna menyelesaikan masalah tersebut. Sama halnya dengan
kemacetan. Tidak bijak apabila masyarakat selalu menyalahkan pemerintah dalam
permasalahan kemacetan yang semakin bertambah setiap harinya, seharusnya
masyarakat juga menengok kepada dirinya sendiri. Apakah dirinya telah ambil
bagian dalam menyelesaikan masalah tersebut atau justru menambah parah
kemacetan dengan tidak mau menggunakan kendaraan umum yang disediakan
pemerintah untuk mengurai kemacetan?
Dan dari bukti di lapangan, masyarakat Solo adalah
masyarakat yang mau bekerja sinergis dengan pemerintah. Buktinya, setelah
pengadaan Batik Solo Trans banyak masyarakat yang beralih dari penggunaan
kendaraan pribadi ke kendaraan umum seperti BST.
Selain mendukung pemerintah menguraikan kemacetan,
menggunakan BST juga menjadi salah satu sarana untuk lebih mengenal budaya Kota
Solo. Saling sapa, mau bertoleransi, dan keramahtamahan adalah atmosfir yang
sangat terasa di dalam BST. Ya, Kota Solo memang sudah terkenal dengan
keramahtamahannya namun bukan tidak mungkin apabila setiap masyarakat
menggunakan kendaraan pribadi, ciri khas Kota Solo tersebut dapat hilang. Lebih
lagi pemerintah pusat saat ini menetapkan kebijakan mobil murah yang dikatakan
‘ramah lingkungan’. Adanya hal tersebut tentu mengharuskan pemerintah daerah
untuk memberikan perhatian lebih dalam menghadapi kemungkinan peningkatan
kemacetan. Selain kemacetan, adanya mobil murah akan menyebabkan peningkatan
rasa individualis karena masyarakat lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi
daripada kendaraan umum sehingga semakin mengurangi kesempatan bersosialisasi.
Jadi memang sangat terlihat bahwa Kota Solo telah
memberikan perhatian lebih terhadap lingkungan. Hal ini terlihat dari bagaimana
Kota Solo menghargai bangunan sejarah, penataan kota yang ramah lingkungan, dan
tersedianya kendaraan umum guna mengurangi kendaraan pribadi yang menyebabkan
kemacetan. Tentunya hal ini dapat terlaksana karena adanya hubungan yang
sinergis antara pemerintah dan masyarakatnya.
Kota Solo memang kota yang “ajaib” menurut saya. Kota
ini mempunyai berbagi kesan yang mungkin berbeda antara individu satu dengan
yang lainnya, namun kesan yang dihasilkan oleh kota ini selalu kesan baik yang
membekas bagi setiap individu. Sehingga tidak berlebihan apabila dikatakan
bahwa Kota Solo adalah kota yang mampu mengemas kekayaannya sedemikian rupa
sehingga dapat memukau siapapun yang datang ke kota ini.
Artikel ini saya ikutkan dalam "Kompetisi Tulisan: Kesan Tentang Solo"
Laili Teja Aisiyantri, SMA Negeri 3 Surakarta







No comments:
Post a Comment