Saturday, June 8, 2013

Sekolah Dambaanku, Gak Muluk-Muluk kok :)

Sekolah, tempat bagi siapapun dari kalangan manapun bersama-sama mengenyam pendidikan. Ya, seperti yang sudah kita ketahui bahwa sekolah merupakan salah satu fasilitator dasar kita dalam memperoleh pendidikan. Tidak dipungkiri bahwa bangku sekolah memberikan banyak pengaruh bagi kehidupan kita ke depannya. Misalnya saja, tanpa pelajaran Bahasa Indonesia tentu kita tidak akan bisa berbahasa dengan baik dan benar. Begitupun dengan pelajaran-pelajaran lain, banyak yang akan sangat berfungsi bagi kehidupan kita di masa depan pastinya.

Guru adalah salah satu faktor utama yang menjembatani agar kita dapat memperoleh ilmu pendidikan di sekolah. Tanpa guru, jelas kita tidak akan bisa mendapatkan ilmu-ilmu yang saat ini kita miliki. Guru dambaan adalah guru yang mengerti siswa-siswanya. Tidak, bukan guru yang tidak pernah memberi PR ataupun ulangan. Tapi sosok guru dambaan itu adalah guru yang ‘mendidik’ bukan hanya ‘mengajar’. Lantas apa bedanya mendidik dan mengajar? Oke, seperti ini contohnya.

"Andi bersekolah di sekolah X. Dia memiliki seorang guru bernama Bu Fufu. Setiap hari Bu Fufu datang ke kelas, memberikan pelajaran kepada semua siswanya termasuk Andi. Ketika pelajaran Bu Fufu, Andi justru terlelap tidur. Teman-temannya sudah menegur Andi, tapi Andi masih tetap tidur. Rene salah satu teman Andi melapor kepada Bu Fufu bahwa saat pelajaran berlangsung Andi justru tidur. Bu Fufu yang menerima pelajaran tersebut justru berkata “Saya rasa, itu pilihan dia untuk memperhatikan pelajaran saya atau tidak. Saya tidak akan rugi jika dia tidak memperhatikan pelajaran saya. Karena sejujurnya, siswalah yang butuh pelajaran ini, bukan saya”. Andi pun dibiarkan tertidur.
Setelah pelajaran Bu Fufu, Pak Yoyi masuk kelas untuk mengajarkan pelajaran berikutnya. Tanpa ada siswa yang melapor, Pak Yoyi segera mendekati Andi yang masih tetap tertidur. “Andi, saya rasa kamu harus bangun sekarang” kata Pak Yoyi sambil membangunkan Andi dengan menggoyang pelan tangan Andi. Andi terbangun dan melihat Pak Yoyi didepannya. Beberapa teman Andi terlihat tertawa kecil melihat Andi dibangunkan oleh Pak Yoyi. Namun Pak Yoyi tidak menampakkan ekspresi marah sedikitpun kepada Andi. “Sekarang coba kamu cuci muka, kemudian kembali ke kelas”, kata Pak Yoyi. Andi pun melaksanakan perintah Pak Yoyi, kemudian kembali ke kelas. “Sekarang, coba ceritakan mengapa kamu dapat tertidur di kelas seperti tadi”, pinta Pak Yoyi kepada Andi. Andi pun bercerita bahwa tadi malam ia membantu ibunya menyiapkan dagangan untuk dijual keesokan harinya, sehingga ia harus tidur larut malam dan membuatnya mengantuk pagi itu. Teman-teman Andi yang sebelumnya menertawakan Andi hanya terdiam. Mereka termenung mendengar cerita Andi. Pak Yoyi kemudian menyuruh Andi kembali duduk dan meminta Andi tidak mengulangi kesalahannya tidur di kelas. Ya, hari itu Pak Yoyi telah mendidik murid-muridnya untuk menjadi orang yang lebih peduli kepada orang lain. Bukan hanya menertawakan orang lain, tapi juga harus mengerti bagaimana keadaan orang lain. Dan Pak Yoyi juga berhasil membuat Andi tidak kehilangan kesempatannya memperoleh ilmu di sekolah."

Jadi, seperti itulah perbedaan antara guru yang hanya ‘mengajar’ dengan guru yang ‘mendidik’. Terlihat jelas berbeda bukan? Namun yang patut kita sesalkan saat ini adalah banyak guru yang dengan alasan ‘mendidik siswa’ sehingga menghalalkan segala cara. Contohnya, seperti yang akhir-akhir ini sering kita saksikan di televisi, ada guru yang menganiaya murid karena berbagai alasan. Dan kebanyakan alasan-alasan tersebut cenderung menyudutkan murid, sehingga seolah-olah apa yang sudah ia lakukan kepada murid terlihat tidak salah.

Salah satu berita mengenai guru menganiaya murid karena tidak mengikuti instruksi guru. Sumber : http://news.detik.com/read/2013/03/24/233015/2202313/10/siswa-smu-di-lhokseumawe-diduga-jadi-korban-penganiayaan-guru-olahraga

Bagaimanapun, tidak ada siswa yang menginginkan memiliki guru yang seperti ini. Tentunya kita semua tidak mau apabila ketika kita melakukan kesalahan di kelas langsung dipukul oleh guru. Hal seperti ini justru membuat siswa semakin takut dan tidak dapat berkembang. Karena hal tersebut timbullah paradigma masyarakat bahwa guru seharusnya “mengajar saja, tak perlu campuri urusan murid”. Banyak guru yang mencari aman dengan mengikuti anggapan masyarakat, hanya mengajar tanpa mendidik. Atau dalam kehidupan sehari-hari dapat kita lihat contoh konkrit banyak guru yang tidak menegur siswanya ketika melanggar aturan dengan berkata, “Saya tidak ingin dibenci murid, biarkan saja murid-murid menikmati masa muda mereka, toh saya pernah merasakan seperti mereka”, kemudian murid-murid bersorak senang. Sadarkah kita sebagai murid, bahwa hal yang demikian ini perlahan-lahan akan semakin merusak mental kita. Awalnya kita mungkin senang, kita bisa bebas berbuat dengan sesuka hati. Tapi lama kelamaan? Apa kamu yakin kamu akan bahagia?

Ambillah saja contoh yang memang sudah tidak asing lagi kita dengar di telinga kita, korupsi. Masalah bangsa kita yang satu ini sudah sangat jelas merupakan salah satu contoh ‘salah didikan’. Mengapa salah didikan? Karena pasti ketika koruptor-koruptor itu duduk di jenjang sekolah, guru kurang mendidik dengan perhatian dan kepedulian. Mungkin saat di sekolah para koruptor itu hanya belajar tanpa pernah diperhatikan oleh guru. Realistis bukan? Pelaku korupsi ini merupakan orang-orang terpelajar buktinya mereka dapat menduduki jabatan-jabatan tinggi dengan uang menggiurkan. Namun hal tersebut tidak diimbangi dengan perilaku yang seharusnya terpelajar pula. Uang yang merupakan amanah, justru digunakan untuk kesenangan sendiri. Coba bayangkan jika nanti setiap generasi muda di masa depan menjadi seperti ini karena 1 sebab, memperoleh peng'ajar'an tanpa memperoleh pen'didik'an. Sangat mengerikan.

Jadi karena itulah, guru dambaan adalah guru yang tidak hanya mengajar tapi juga mendidik dengan perhatian dan kepedulian.

Selain guru, faktor yang sangat penting dalam terlaksananya kegiatan belajar mengajar di sekolah adalah fasilitas dari sekolah itu sendiri. Seperti telah kita ketahui bahwa di Indonesia masih belum bisa terselenggarakannya pemerataan pendidikan. Ada sekolah yang sudah sangat maju namun disisi lain juga ada sekolah yang sarana dan prasarananya tidak memadai. Sekolah yang sarana dan prasarananya rusak atau tidak memadai ini bukan hanya terjadi di sekolah pelosok desa ataupun pinggiran kota, namun di kota-kota besar juga masih ada sekolah seperti itu.

Gedung Sekolah SDN 10 Pagi, Duri Kepa, Jakarta Barat rusak sejak setahun lalu,
kemanakah pemerintah?

Karena itu, fasilitas yang didambakan untuk sekolah tidaklah fasilitas yang mewah namun cukuplah fasilitas yang memadai dan merata. Memadai dalam arti dapat menjamin keselamatan siswa dan menunjang kegiatan belajar mengajar dan merata dengan arti setiap siswa dapat memperoleh fasilitas yang sama dimanapun letak sekolahnya di Indonesia ini. Tentu kita akan lebih senang mendapat perlakuan sama dengan saudara kita daripada bermewah-mewahan namun ada saudara kita yang kesusahan ataupun sebaliknya, kita mengalami kesusahan untuk belajar tapi ditempat lain justru saudara kita bermewah-mewahan dengan segala fasilitas.

Seperti yang telah ada di UUD 1945 BAB XIII tentang PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN Pasal 31 Ayat 1 bahwa “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan”. Karena itu fasilitas pendidikan juga harus diberikan secara merata.

Selanjutnya ada tugas dan pekerjaan rumah yang menjadi dambaan untuk adanya perubahan. Seperti yang kita ketahui setiap guru pasti memberikan tugas atau PR kepada siswanya. Namun guru justru lebih sering memberikan tugas berupa soal-soal. Memang hal ini tidaklah salah, karena dengan diberikan tugas berupa soal-soal tersebut siswa dapat lebih paham mengenai materi yang sebelumnya telah disampaikan oleh guru di sekolah. Tapi, banyak siswa yang cenderung bosan dengan tugas seperti ini. Siswa seringkali berpikir dan menyangsikan apakah kegunaan dari ilmu yang sedang dipelajari dan karena keraguannya ini siswa malas untuk memperhatikan guru saat mengajar.

Karena itulah, sebenarnya tugas atau pekerjaan rumah merupakan peluang besar bagi guru untuk menyakinkan siswanya mengenai kegunaan ilmu yang sedang dipelajari tersebut di masa depan. Tugas? Mengerjakan tugas saja siswa sering malas dan memilih untuk tidak mengerjakannya, lantas bagaimana tugas bisa meyakinkan siswa? Mungkin itu yang dipikirkan beberapa orang terhadap pernyataan bahwa tugas bisa membangun kesadaran siswa mengenai pentingnya ilmu pengetahuan. Ya, tugas. Tugas disini bukanlah memberikan soal-soal seperti kebanyakan guru namun tugas dalam bentuk miniatur penerapan ilmu yang sedang dipelajari dalam kehidupan.

Misalnya, di sekolah pada mata pelajaran Bahasa Inggris kita telah belajar mengenai report, kemudian guru memberikan tugas untuk melakukan wawancara dan menyusunnya seperti berita di televisi. Atau misalkan di sekolah terdapat pelajaran TIK kita telah mengenal corel draw, guru kemudian memberi tugas untuk membuat brosur periklanan suatu produk menggunakan corel draw.

Contoh tugas penerapan corel draw sebagai brosur periklanan

Lantas apakah tugas seperti ini tidak semakin memberatkan siswa? Mungkin pada awalnya siswa akan mengeluh namun dengan diberikannya tugas seperti ini, siswa akan mendapatkan pengalaman tak ternilai. Selain itu, dengan adanya tugas tersebut siswa akan siap menghadapi kenyataan di lapangan secara langsung sehingga siswa telah siap mental untuk bersaing di dunia luar.

Yang terakhir adalah harapan bagi pendidikan di Indonesia ini adalah dapat terbebas dari korupsi. Ya, korupsi memang masalah mendasar negeri kita ini. Entah itu di kalangan pemerintah maupun ranah pendidikan masalah ini selalu menjadi masalah yang sulit untuk dituntaskan. Perlahan-lahan korupsi memang menggerogoti bangsa Indonesia yang kaya ini.

Namun, kita harus yakin dan tidak boleh berhenti percaya bahwa suatu hari nanti Indonesia akan terbebas dari belenggu korupsi. Ya, hari itu adalah ketika kita, generasi muda bangsa ini mengambil andil dalam pergerakan bangsa. Mengambil andil baik itu di pemerintahan, pendidikan, maupun ekonomi. Kita harus percaya bahwa kita pasti bisa menumpas segala macam sampah korupsi. Karena itulah sekolah haruslah dapat menghasilkan generasi muda yang cerdas akal dan perilaku. Generasi muda yang berprestasi dan beriman, itulah kita.

Jadi, sekolah dambaanku memang gak muluk-muluk kok cukup dengan guru yang ‘mendidik’ bukan hanya ‘mengajar’, fasilitas sekolah yang tak perlu mewah tapi memadai dan merata bagi seluruh siswa di Indonesia, tugas sekolah yang berupa penerapan ilmu dalam kehidupan sehingga menggugah minat siswa dan kesiapan siswa menghadapi dunia luar, dan terakhir harapan bagi pendidikan indonesia yang terbebas dari belenggu korupsi. Dengan kesinergisan antara faktor-faktor tersebut dan dengan izin Tuhan Yang Maha Kuasa, pendidikan di Indonesia tak akan dipandang sebelah mata karena menghasilkan generasi berprestastasi, berbudi luhur, dan pastinya generasi yang membuat negeri ini terbebas dari korupsi.

Artikel ini saya ikutkan dalam "Sekolah Dambaanku, Blog Competition"
Laili Teja Aisiyantri, SMA Negeri 3 Solo


14 comments:

  1. selamat yaaaa artikelmu ini menang...
    wahhh aqu aja kalah ama kemampuan menulismu... salam kenal -adila-

    ReplyDelete
  2. Artikelnya menarik, ulasannya lengkap. Selamat ya, udah menang.. :D

    ReplyDelete
  3. what a great article, dapet intinya tanpa harus "muluk-muluk", selamat!

    ReplyDelete
  4. Selamat yach ... terus menulis untuk kemajuan sekolah di Indonesia, Amien

    ReplyDelete
  5. selamat wah , kalah jaun nih guet, harus terus belajar

    ReplyDelete
  6. Hi Laili, congratz ya! Tulisan kamu keren sekali.
    Saya sangat terinspirasi. Jadilah bagian dari sekolah yang kamu dambakan ini ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih. aku harap sekolah yang aku dambakan ini bisa terwujud, dan setiap anak indonesia punya kesempatan mengikuti atau 'ambil bagian' dlm sekolah tersebut :)

      Delete
  7. Ulasannya bagus sekali.... Terorganisir dengan baik urutan pembahasannya. Hebat! Selamat ya juara 1 :) Salam kenal, saya Husni Radiyan Al-Banna. Dari Sman 1 Bekasi.
    Husniradiyan.wordpress.com

    ReplyDelete