Sekolah, tempat bagi siapapun dari kalangan manapun
bersama-sama mengenyam pendidikan. Ya, seperti yang sudah kita ketahui bahwa
sekolah merupakan salah satu fasilitator dasar kita dalam memperoleh
pendidikan. Tidak dipungkiri bahwa bangku sekolah memberikan banyak pengaruh
bagi kehidupan kita ke depannya. Misalnya saja, tanpa pelajaran Bahasa Indonesia
tentu kita tidak akan bisa berbahasa dengan baik dan benar. Begitupun dengan
pelajaran-pelajaran lain, banyak yang akan sangat berfungsi bagi kehidupan kita
di masa depan pastinya.
Guru adalah salah satu faktor utama yang menjembatani
agar kita dapat memperoleh ilmu pendidikan di sekolah. Tanpa guru, jelas kita
tidak akan bisa mendapatkan ilmu-ilmu yang saat ini kita miliki. Guru dambaan
adalah guru yang mengerti siswa-siswanya. Tidak, bukan guru yang tidak pernah
memberi PR ataupun ulangan. Tapi sosok guru dambaan itu adalah guru yang ‘mendidik’
bukan hanya ‘mengajar’. Lantas apa bedanya mendidik dan mengajar? Oke, seperti
ini contohnya.
"Andi bersekolah di sekolah X. Dia memiliki seorang
guru bernama Bu Fufu. Setiap hari Bu Fufu datang ke kelas, memberikan pelajaran
kepada semua siswanya termasuk Andi. Ketika pelajaran Bu Fufu, Andi justru
terlelap tidur. Teman-temannya sudah menegur Andi, tapi Andi masih tetap tidur.
Rene salah satu teman Andi melapor kepada Bu Fufu bahwa saat pelajaran
berlangsung Andi justru tidur. Bu Fufu yang menerima pelajaran tersebut justru
berkata “Saya rasa, itu pilihan dia untuk memperhatikan pelajaran saya atau
tidak. Saya tidak akan rugi jika dia tidak memperhatikan pelajaran saya. Karena
sejujurnya, siswalah yang butuh pelajaran ini, bukan saya”. Andi pun dibiarkan
tertidur.
Setelah pelajaran Bu Fufu, Pak Yoyi masuk kelas untuk
mengajarkan pelajaran berikutnya. Tanpa ada siswa yang melapor, Pak Yoyi segera
mendekati Andi yang masih tetap tertidur. “Andi, saya rasa kamu harus bangun
sekarang” kata Pak Yoyi sambil membangunkan Andi dengan menggoyang pelan tangan
Andi. Andi terbangun dan melihat Pak Yoyi didepannya. Beberapa teman Andi
terlihat tertawa kecil melihat Andi dibangunkan oleh Pak Yoyi. Namun Pak Yoyi
tidak menampakkan ekspresi marah sedikitpun kepada Andi. “Sekarang coba kamu cuci muka, kemudian
kembali ke kelas”, kata Pak Yoyi. Andi pun melaksanakan perintah Pak Yoyi,
kemudian kembali ke kelas. “Sekarang, coba ceritakan mengapa kamu dapat
tertidur di kelas seperti tadi”, pinta Pak Yoyi kepada Andi. Andi pun bercerita
bahwa tadi malam ia membantu ibunya menyiapkan dagangan untuk dijual keesokan
harinya, sehingga ia harus tidur larut malam dan membuatnya mengantuk pagi itu.
Teman-teman Andi yang sebelumnya menertawakan Andi hanya terdiam. Mereka termenung
mendengar cerita Andi. Pak Yoyi kemudian menyuruh Andi kembali duduk dan
meminta Andi tidak mengulangi kesalahannya tidur di kelas. Ya, hari itu Pak
Yoyi telah mendidik murid-muridnya untuk menjadi orang yang lebih peduli kepada
orang lain. Bukan hanya menertawakan orang lain, tapi juga harus mengerti
bagaimana keadaan orang lain. Dan Pak Yoyi juga berhasil membuat Andi tidak
kehilangan kesempatannya memperoleh ilmu di sekolah."
Jadi, seperti itulah perbedaan antara guru yang hanya ‘mengajar’
dengan guru yang ‘mendidik’. Terlihat jelas berbeda bukan? Namun yang patut
kita sesalkan saat ini adalah banyak guru yang dengan alasan ‘mendidik siswa’
sehingga menghalalkan segala cara. Contohnya, seperti yang akhir-akhir ini
sering kita saksikan di televisi, ada guru yang menganiaya murid karena
berbagai alasan. Dan kebanyakan alasan-alasan tersebut cenderung menyudutkan
murid, sehingga seolah-olah apa yang sudah ia lakukan kepada murid terlihat tidak
salah.
Salah satu berita mengenai guru menganiaya murid karena tidak mengikuti
instruksi guru. Sumber : http://news.detik.com/read/2013/03/24/233015/2202313/10/siswa-smu-di-lhokseumawe-diduga-jadi-korban-penganiayaan-guru-olahraga
Bagaimanapun, tidak ada siswa yang menginginkan
memiliki guru yang seperti ini. Tentunya kita semua tidak mau apabila ketika
kita melakukan kesalahan di kelas langsung dipukul oleh guru. Hal seperti ini
justru membuat siswa semakin takut dan tidak dapat berkembang. Karena hal
tersebut timbullah paradigma masyarakat bahwa guru seharusnya “mengajar saja,
tak perlu campuri urusan murid”. Banyak guru yang mencari aman dengan mengikuti
anggapan masyarakat, hanya mengajar tanpa mendidik. Atau dalam kehidupan
sehari-hari dapat kita lihat contoh konkrit banyak guru yang tidak menegur
siswanya ketika melanggar aturan dengan berkata, “Saya tidak ingin dibenci
murid, biarkan saja murid-murid menikmati masa muda mereka, toh saya pernah
merasakan seperti mereka”, kemudian murid-murid bersorak senang. Sadarkah kita
sebagai murid, bahwa hal yang demikian ini perlahan-lahan akan semakin merusak
mental kita. Awalnya kita mungkin senang, kita bisa bebas berbuat dengan sesuka
hati. Tapi lama kelamaan? Apa kamu yakin kamu akan bahagia?
Ambillah saja contoh yang memang sudah tidak asing
lagi kita dengar di telinga kita, korupsi. Masalah bangsa kita yang satu ini
sudah sangat jelas merupakan salah satu contoh ‘salah didikan’. Mengapa salah
didikan? Karena pasti ketika koruptor-koruptor itu duduk di jenjang sekolah, guru kurang
mendidik dengan perhatian dan kepedulian. Mungkin saat di sekolah para koruptor itu hanya belajar tanpa pernah diperhatikan oleh guru. Realistis bukan? Pelaku korupsi
ini merupakan orang-orang terpelajar buktinya mereka dapat menduduki
jabatan-jabatan tinggi dengan uang menggiurkan. Namun hal tersebut tidak
diimbangi dengan perilaku yang seharusnya terpelajar pula. Uang yang merupakan
amanah, justru digunakan untuk kesenangan sendiri. Coba bayangkan jika nanti
setiap generasi muda di masa depan menjadi seperti ini karena 1 sebab,
memperoleh peng'ajar'an tanpa memperoleh pen'didik'an. Sangat mengerikan.
Jadi karena itulah, guru dambaan adalah guru yang
tidak hanya mengajar tapi juga mendidik dengan perhatian dan kepedulian.
Selain guru, faktor yang sangat penting dalam
terlaksananya kegiatan belajar mengajar di sekolah adalah fasilitas dari
sekolah itu sendiri. Seperti telah kita ketahui bahwa di Indonesia masih belum
bisa terselenggarakannya pemerataan pendidikan. Ada sekolah yang sudah sangat
maju namun disisi lain juga ada sekolah yang sarana dan prasarananya tidak
memadai. Sekolah yang sarana dan prasarananya rusak atau tidak memadai ini
bukan hanya terjadi di sekolah pelosok desa ataupun pinggiran kota, namun di
kota-kota besar juga masih ada sekolah seperti itu.
Gedung Sekolah SDN 10 Pagi, Duri Kepa, Jakarta Barat rusak sejak setahun lalu,
kemanakah pemerintah?
Karena itu, fasilitas yang didambakan untuk sekolah
tidaklah fasilitas yang mewah namun cukuplah fasilitas yang memadai dan merata.
Memadai dalam arti dapat menjamin keselamatan siswa dan menunjang kegiatan
belajar mengajar dan merata dengan arti setiap siswa dapat memperoleh fasilitas
yang sama dimanapun letak sekolahnya di Indonesia ini. Tentu kita akan lebih
senang mendapat perlakuan sama dengan saudara kita daripada bermewah-mewahan
namun ada saudara kita yang kesusahan ataupun sebaliknya, kita mengalami
kesusahan untuk belajar tapi ditempat lain justru saudara kita bermewah-mewahan
dengan segala fasilitas.
Seperti yang telah ada di UUD 1945 BAB XIII tentang
PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN Pasal 31 Ayat 1 bahwa “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan”. Karena itu fasilitas pendidikan juga harus diberikan secara merata.
Selanjutnya ada tugas dan pekerjaan rumah yang menjadi
dambaan untuk adanya perubahan. Seperti yang kita ketahui setiap guru pasti
memberikan tugas atau PR kepada siswanya. Namun guru justru lebih sering
memberikan tugas berupa soal-soal. Memang hal ini tidaklah salah, karena dengan
diberikan tugas berupa soal-soal tersebut siswa dapat lebih paham mengenai
materi yang sebelumnya telah disampaikan oleh guru di sekolah. Tapi, banyak
siswa yang cenderung bosan dengan tugas seperti ini. Siswa seringkali berpikir
dan menyangsikan apakah kegunaan dari ilmu yang sedang dipelajari dan karena
keraguannya ini siswa malas untuk memperhatikan guru saat mengajar.
Karena itulah, sebenarnya tugas atau pekerjaan rumah
merupakan peluang besar bagi guru untuk menyakinkan siswanya mengenai kegunaan
ilmu yang sedang dipelajari tersebut di masa depan. Tugas? Mengerjakan tugas
saja siswa sering malas dan memilih untuk tidak mengerjakannya, lantas bagaimana
tugas bisa meyakinkan siswa? Mungkin itu yang dipikirkan beberapa orang
terhadap pernyataan bahwa tugas bisa membangun kesadaran siswa mengenai
pentingnya ilmu pengetahuan. Ya, tugas. Tugas disini bukanlah memberikan
soal-soal seperti kebanyakan guru namun tugas dalam bentuk miniatur penerapan
ilmu yang sedang dipelajari dalam kehidupan.
Misalnya, di sekolah pada mata pelajaran Bahasa
Inggris kita telah belajar mengenai report, kemudian guru memberikan tugas
untuk melakukan wawancara dan menyusunnya seperti berita di televisi. Atau misalkan
di sekolah terdapat pelajaran TIK kita telah mengenal corel draw, guru kemudian
memberi tugas untuk membuat brosur periklanan suatu produk menggunakan corel
draw.
Contoh tugas penerapan corel draw sebagai brosur periklanan
Lantas apakah tugas seperti ini tidak semakin
memberatkan siswa? Mungkin pada awalnya siswa akan mengeluh namun dengan
diberikannya tugas seperti ini, siswa akan mendapatkan pengalaman tak ternilai.
Selain itu, dengan adanya tugas tersebut siswa akan siap menghadapi kenyataan di lapangan
secara langsung sehingga siswa telah siap mental untuk bersaing di dunia luar.
Yang terakhir adalah harapan bagi pendidikan di
Indonesia ini adalah dapat terbebas dari korupsi. Ya, korupsi memang masalah
mendasar negeri kita ini. Entah itu di kalangan pemerintah maupun ranah
pendidikan masalah ini selalu menjadi masalah yang sulit untuk dituntaskan. Perlahan-lahan
korupsi memang menggerogoti bangsa Indonesia yang kaya ini.
Namun, kita harus yakin dan tidak boleh berhenti
percaya bahwa suatu hari nanti Indonesia akan terbebas dari belenggu korupsi. Ya,
hari itu adalah ketika kita, generasi muda bangsa ini mengambil andil dalam
pergerakan bangsa. Mengambil andil baik itu di pemerintahan, pendidikan, maupun
ekonomi. Kita harus percaya bahwa kita pasti bisa menumpas segala macam sampah
korupsi. Karena itulah sekolah haruslah dapat menghasilkan generasi muda yang
cerdas akal dan perilaku. Generasi muda yang berprestasi dan beriman, itulah
kita.
Jadi, sekolah dambaanku memang gak muluk-muluk kok cukup dengan guru yang ‘mendidik’ bukan hanya ‘mengajar’,
fasilitas sekolah yang tak perlu mewah tapi memadai dan merata bagi seluruh
siswa di Indonesia, tugas sekolah yang berupa penerapan ilmu dalam kehidupan
sehingga menggugah minat siswa dan kesiapan siswa menghadapi dunia luar, dan
terakhir harapan bagi pendidikan indonesia yang terbebas dari belenggu korupsi.
Dengan kesinergisan antara faktor-faktor tersebut dan dengan izin Tuhan Yang
Maha Kuasa, pendidikan di Indonesia tak akan dipandang sebelah mata karena
menghasilkan generasi berprestastasi, berbudi luhur, dan pastinya generasi yang
membuat negeri ini terbebas dari korupsi.
Artikel ini saya ikutkan dalam "Sekolah Dambaanku, Blog Competition"
Laili Teja Aisiyantri, SMA Negeri 3 Solo

selamat yaaaa artikelmu ini menang...
ReplyDeletewahhh aqu aja kalah ama kemampuan menulismu... salam kenal -adila-
Makasih. iya, salam kenal :)
DeleteArtikelnya menarik, ulasannya lengkap. Selamat ya, udah menang.. :D
ReplyDeleteMakasih :)
Deletewhat a great article, dapet intinya tanpa harus "muluk-muluk", selamat!
ReplyDeleteMakasih :)
DeleteSelamat yach ... terus menulis untuk kemajuan sekolah di Indonesia, Amien
ReplyDeleteMakasih, amin :)
Deleteselamat wah , kalah jaun nih guet, harus terus belajar
ReplyDeletemakasih, semangat terus :)
DeleteHi Laili, congratz ya! Tulisan kamu keren sekali.
ReplyDeleteSaya sangat terinspirasi. Jadilah bagian dari sekolah yang kamu dambakan ini ya :)
Makasih. aku harap sekolah yang aku dambakan ini bisa terwujud, dan setiap anak indonesia punya kesempatan mengikuti atau 'ambil bagian' dlm sekolah tersebut :)
DeleteUlasannya bagus sekali.... Terorganisir dengan baik urutan pembahasannya. Hebat! Selamat ya juara 1 :) Salam kenal, saya Husni Radiyan Al-Banna. Dari Sman 1 Bekasi.
ReplyDeleteHusniradiyan.wordpress.com
makasih. iya salam kenal :)
Delete