Friday, November 29, 2013

Solo, Kota Peduli Lingkungan

Kota Solo, kota kelahiran saya dan tempat saya tinggal selama 16 tahun terhitung semenjak saya lahir. Di kota ini saya mendapatkan banyak pelajaran tentang arti hidup, arti bagaimana melestarikan budaya, dan arti keharusan seorang manusia untuk peduli lingkungan. Saya yakin, setiap orang yang pernah berkunjung ke kota ini pasti setuju dengan slogan Kota Solo itu sendiri, “Solo Kota Budaya”. Ya, siapapun dapat merasakan bagaimana hawa kekentalan budaya dalam keseharian di Kota Solo.

Kota Solo dikenal sebagai kota budaya oleh dunia

Batik, kuliner serabi, atau bangunan keraton adalah kesan pertama kebanyakan orang ketika menggambarkan Solo. Namun sesungguhnya, Kota Solo masih mempunyai banyak budaya yang tak akan ditemukan di lain daerah. Dan bagi saya sendiri, Kota Solo mempunyai kesan khusus yang berbeda dari kota lain.


“Solo, kota peduli lingkungan” itu adalah kesan paling mendalam yang saya rasakan semenjak saya kecil. Kota ini memang memberikan perhatian yang lebih kepada lingkungan. Di saat kota-kota lain kebingungan dan mengajak setiap masyarakatnya untuk menghijaukan kota karena adanya pemanasan global, Kota Solo sudah “hijau”. Kota yang terus mengalami perkembangan dari segi pembangunan dan penataan kota ini, tidak pernah melakukan pengalihan fungsi lahan taman kota. Bahkan pemerintah kota berusaha untuk semakin memaksimalkan fasilitas taman kota. Pemerintah juga terus berusaha dalam menambah lahan terbuka bagi masyarakat Solo.

Tak hanya itu, pemerintah Kota Solo akhir-akhir ini semakin menunjukkan eksistensinya sebagai kota yang sangat peduli terhadap lingkungan di Kota Solo. Sebut saja kawasan di sekitar tempat cagar budaya Benteng Vestenburg yang saat ini semakin terawat dengan pembersihan benteng serta penanaman pohon dan rerumputan yang membuat suasana sekitar benteng semakin teduh.

Suasana teduh Benteng Vestenburg setelah hujan

Selain menghijaukan dan merawat Benteng Vestenburg, pemerintah kota solo juga memperbaiki trotoar di kawasan tersebut. Sehingga saat ini masyarakat Kota Solo dapat menikmati suasana klasik Benteng Vestenburg dengan berjalan kaki di sekitar wilayah tersebut.

Trotoar di depan Benteng Vestenburg

Tak jarang fasilitas yang disediakan oleh pemerintah kota ini juga dimanfaatkan oleh para pemuda untuk berlatih bermain skateboard. Selain itu, banyak wisatawan yang memanfaatkan suasana di sekitar Benteng Vestenburg untuk berfoto, mengabadikan saat-saat singgah di bangunan klasik yang termasuk  cagar budaya tersebut. Bahkan ada beberapa orang yang berkunjung ke Benteng Vestenburg memang sengaja untuk membidik setiap detail arsitektur Vestenburg.

Lantas selain kepedulian pada Benteng Vestenburg apalagi langkah Kota Solo dalam merealisasikan bentuk pedulinya terhadap lingkungan? Tersedianya pohon di pinggir-pinggir jalan, salah satu jawabannya. Polusi yang semakin menjadi karena banyaknya kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang di jalan merupakan salah satu alasan yang membuat masyarakat malas berjalan kaki dan menggunakan angkutan umum. Namun, di Solo sangat berbeda. Tidak ada masalah apabila kita memilih berjalan kaki saat berpergian berkeliling Kota Solo. Pemerintah kota telah menyediakan City Walk yang nyaman untuk berjalan kaki serta teduh karena banyak pepohonan di sekitarnya.

Suasana teduh Kota Solo

Selain itu pengadaan City Walk telah membantu ekonomi masyarakat solo itu sendiri. Peluang tersebut ada karena di sepanjang City Walk berjejer rapi para pedagang kaki lima yang menjajakan setiap dagangannya kepada para pejalan yang lewat. Tidak seperti umumnya dimana pedagang kaki lima selalu dianggap tidak teratur dan seenaknya, di kota solo sangatlah lain. Bagaimana pemerintah berhasil mengatur dan menyediakan tempat yang layak bagi para pedagang kaki lima patut dicontoh daerah lainnya.

Galabo, salah satu tempat yang disediakan oleh Pemerintah Kota Solo bagi pedagang kaki lima

Fasilitas lain yang diberikan oleh pemerintah bagi para pejalan adalah pengadaan Batik Solo Trans atau yang lebih sering disebut BST. Mengapa fasilitas ini termasuk fasilitas yang mendukung pejalan kaki? Karena dengan adanya BST para pejalan kaki dapat mencapai tujuan jauh yang mungkin tidak dapat dicapai dengan berjalan kaki. Selain itu, halte-halte BST yang terletak di City Walk semakin memudahkan pejalan kaki.

Salah satu halte BST yang terletak di dekat Benteng Vestenburg

Pengadaan Batik Solo Trans ini adalah salah satu bukti bagaimana pemerintah Kota Solo merealisasikan kepeduliannya terhadap lingkungan, karena dengan pengadaan BST tentu penggunaan kendaraan pribadi yang menambah polusi udara dapat diminimalisir. Ya, tidak dapat disangkal bahwa kendaraan pribadi yang menyebabkan kemacetan adalah masalah klasik yang terjadi hampir di setiap kota di Indonesia. Oleh karena itu, kesadaran masyarakat sendirilah yang diperlukan untuk menguraikan masalah tersebut. Kesadaran masyarakat untuk tidak menggunakan kendaraan pribadi dan turut serta menggunakan kendaraan umum yang telah disediakan oleh pemerintah.

Tentu suatu masalah tidak akan selesai apabila yang menyelesaikan masalah tersebut hanya satu pihak saja, perlu adanya dukungan dari pihak-pihak lain guna menyelesaikan masalah tersebut. Sama halnya dengan kemacetan. Tidak bijak apabila masyarakat selalu menyalahkan pemerintah dalam permasalahan kemacetan yang semakin bertambah setiap harinya, seharusnya masyarakat juga menengok kepada dirinya sendiri. Apakah dirinya telah ambil bagian dalam menyelesaikan masalah tersebut atau justru menambah parah kemacetan dengan tidak mau menggunakan kendaraan umum yang disediakan pemerintah untuk mengurai kemacetan?

Dan dari bukti di lapangan, masyarakat Solo adalah masyarakat yang mau bekerja sinergis dengan pemerintah. Buktinya, setelah pengadaan  Batik Solo Trans banyak masyarakat yang beralih dari penggunaan kendaraan pribadi ke kendaraan umum seperti BST.

Suasana di dalam Batik Solo Trans

Selain mendukung pemerintah menguraikan kemacetan, menggunakan BST juga menjadi salah satu sarana untuk lebih mengenal budaya Kota Solo. Saling sapa, mau bertoleransi, dan keramahtamahan adalah atmosfir yang sangat terasa di dalam BST. Ya, Kota Solo memang sudah terkenal dengan keramahtamahannya namun bukan tidak mungkin apabila setiap masyarakat menggunakan kendaraan pribadi, ciri khas Kota Solo tersebut dapat hilang. Lebih lagi pemerintah pusat saat ini menetapkan kebijakan mobil murah yang dikatakan ‘ramah lingkungan’. Adanya hal tersebut tentu mengharuskan pemerintah daerah untuk memberikan perhatian lebih dalam menghadapi kemungkinan peningkatan kemacetan. Selain kemacetan, adanya mobil murah akan menyebabkan peningkatan rasa individualis karena masyarakat lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi daripada kendaraan umum sehingga semakin mengurangi kesempatan bersosialisasi.

Jadi memang sangat terlihat bahwa Kota Solo telah memberikan perhatian lebih terhadap lingkungan. Hal ini terlihat dari bagaimana Kota Solo menghargai bangunan sejarah, penataan kota yang ramah lingkungan, dan tersedianya kendaraan umum guna mengurangi kendaraan pribadi yang menyebabkan kemacetan. Tentunya hal ini dapat terlaksana karena adanya hubungan yang sinergis antara pemerintah dan masyarakatnya.

Kota Solo memang kota yang “ajaib” menurut saya. Kota ini mempunyai berbagi kesan yang mungkin berbeda antara individu satu dengan yang lainnya, namun kesan yang dihasilkan oleh kota ini selalu kesan baik yang membekas bagi setiap individu. Sehingga tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa Kota Solo adalah kota yang mampu mengemas kekayaannya sedemikian rupa sehingga dapat memukau siapapun yang datang ke kota ini.

Artikel ini saya ikutkan dalam "Kompetisi Tulisan: Kesan Tentang Solo"
Laili Teja Aisiyantri, SMA Negeri 3 Surakarta

Kontes Tulisan Tentang Solo

No comments:

Post a Comment